Setahun Setelah Ibuk Berpulang: Hanya Ingin Bertanya



Assalamu’alaikum!

Hai. It’s been so long since I wrote here. Padahal waktu terakhir kali nulis di blog, udah bertekad mau ngisi blog lebih rajin. Apalah daya, ternyata menulis tidak semudah itu meski waktu luang begitu banyak. Hahah.


Anyways.

Sudah setahun sejak Ibuk berpulang Februari lalu. Tepat setahun lalu, setelah beberapa tahun kondisi kesehatan naik-turun, hingga akhirnya divonis CKD/gagal ginjal kronis tiga bulan sebelum kembali ke Rahmatullah. Insya Allah aku akan tulis pengalaman menemani Ibuk selama sakit beliau di lain kesempatan.


Kalau ditanya gimana rasanya hidup tanpa Ibuk setahun belakangan?

Ya… begini. Gimana jelasinnya ya? Aku akan mulai dengan berduka.


Dulu, kupikir berduka itu ya nangis meraung-raung ketika orang yang kita sayang nggak lagi bernafas. Nggak bisa lagi bersama dengan kita. Kupikir berduka itu seperti di drama dan film, teriak-teriak minta orang yang kita sayang itu kembali. Histeris. Hancur.

Well, mungkin untuk sebagian orang berduka ya seperti itu.


Ternyata berduka lebih dari itu.


Berduka itu ternyata terdiam sekian menit ngelihat kursi yang kosong di waktu Subuh. Berduka itu ternyata bengong sekian detik melihat ikat rambut yang tergantung di gantungan baju kamar mandi. Berduka itu ternyata nangis pas goreng tahu on random Tuesday. Berduka itu mengulang-ulang voice note yang isinya cuma pesan list belanjaan. Dan masih banyak lagi.


Tapi yang lebih menyakitkan adalah: berduka itu tidak mendapat jawaban.


Untukku terutama, yang apa-apa masih sering nanya (temen-temenku bilang aku orangnya kebanyakan nanya), rasanya bingung karena biasanya kalau ada apa-apa, aku selalu punya jawaban.


Mau kondangan, buwuh berapa? Nominal sekian.

Mau takziah, ngasih apa? Ini dan itu.

Ada acara A, B, C… harusnya ngapain? Begini dan begitu.

Mau bikin ini, caranya gimana? Begini terus begitu.

Kaki luka, tangan gatel, kepala pusing, terus diobatinnya pake apa? Ini, ini, dan itu.

Ada orang kayak begini, ngadepinnya gimana? Gini aja, terus gitu.

Itu yang sepupunya kakaknya omnya Pak Fulan, siapa sih? Oh, itu sih Fulanah.


Dan tiba-tiba semua nggak ada jawabannya.


Berduka itu… ternyata ‘sesederhana’ hanya ingin bertanya, namun sayangnya tak mendapat jawaban.


Kupikir di usia kepala tiga ini, aku sudah tau banyak hal. Ternyata nggak juga. Ada banyak hal yang nggak aku tau. Dan sekian puluh tahun ini aku punya privilese bisa mendapat jawaban dengan mudah, now it’s gone.


Untuk orang lain, mungkin berduka itu beda lagi. Apapun bentuk dukanya, semoga tidak menghalangi kita untuk terus mengingat bahwa kita semua adalah milik-Nya dan pasti kembali pada-Nya.

Comments

Popular Posts