Takut
Namanya Melati.
Saat Melati berumur lima tahun, dia paling takut dengan kuburan.
Dia takut dengan pohon tinggi di tengah area makam; takut dengan suasana yang sepi, lembab, dan dingin; takut dengan hantu yang mungkin bertengger di salah satu dahan pohon tinggi itu; takut hantu berwajah buruk rupa mengejar anak bandel sepertinya untuk menagih apapun yang bisa ditagih walau dia belum paham konsep itu; takut dengan wangi kamboja yang satu demi satu berjatuhan di tanah basah.
Sekarang Melati berumur 30 tahun.
Yang dia takuti sekarang adalah ruangan berisi beberapa ranjang; sebagian diisi, sebagian kosong. Ruangan dengan bunyi bip-bip-bip panjang dan pendek. Ruangan berbau obat yang pekat, bercampur was-was, harap, dan duka yang mencekam. Ruangan dimana salah satu tubuh orang terkasihnya tergeletak tak berdaya dengan berbagai alat menopang hidupnya, dan sebuah layar seukuran tablet menggambarkan kondisinya.
Melati kembali ke makam tak lama setelah berhari-hari mengunjungi ruangan menyeramkan itu.
Kali ini makam bukan lagi tempat yang ia takuti, sebab di sanalah kini, tertidur dan terkubur satu sosok yang ia cintai.
Mungkin, ini bukan tentang Melati.

.jpg)
Comments
Post a Comment